Kamis, 03 April 2014

Francesco Totti Buka Kesempatan Membela Timnas Italia Di Piala Dunia 2014



Totti bersedia kembali ke tim nasional Italia untuk Piala Dunia 2014 jika kondisi fisiknya memungkinkan.

Kapten AS Roma Francesco Totti telah mengutarakan kemungkinannya untuk kembali memperkuat tim nasional Italia di ajang Piala Dunia 2014.

Seperti diketahui, Totti, 37, telah menyatakan pensiun dari pentas internasional setelah membantu negaranya menjadi juara dunia pada 2006. Belum lama ini, sosoknya kembali dikaitkan dengan Azzurri dengan ia yang akan me-review kondisi fisiknya sebelum menerima pinangan pelatih Cesare Prandelli.

“Jika Prandelli memanggil saya, maka saya akan bangga,” ujar Totti kepada Sky Sport Italia. “Saya akan senang, karena Piala Dunia di Brasil tidak akan tersedia lagi untuk saya [di masa depan].

“Namun, saya selalu berkata bahwa saya harus melihat kondisi fisik saya terlebih dahulu, baik atau tidaknya. Itulah hal terpenting,” imbuhnya.

Di musim ini, Totti telah mengemas enam gol dan delapan assists dari 16 penampilannya di Serie A.


AS Roma Siap Pensiunkan Nomor Punggung 10

Totti akan menjadi pemain terakhir AS Roma yang mengenakan nomor punggung #10.

AS Roma berencana untuk mempensiunkan nomor punggung #10, yang dalam beberapa tahun terakhir dikenakan oleh Francesco Totti.

Pensiunnya nomor tersebut tak bisa dilepaskan dari sosok pemain yang mengenakan nomor punggung tersebut saat ini.

Diungkapkan James Pallota, presiden I Lupi, Totti sudah menjadi legenda tersendiri berkat 288 gol dari lebih 700 penampilan dan satu scudetto serta dua dua trofi Coppa Italia.

"Saya senang memiliki pemain yang menghabiskan karirnya selama 10-15 tahun di klub," kata Pallota, Sein (31/1).

"Ketika Francesco memutuskan pensiun, kami juga akan mempensiunkan nomor punggung 10, tak diragukan lagi."

"Perpisahannya juga tidak akan berjalan selama satu jam, tapi setidaknya sebulan," tandasnya.

Sumber :

Macam - macam Dan Manfaat Etika

Macam – macam Etika

Ada macam-macam etika yang harus kita pahami bersama dalam menentukan baik dan buruknya prilaku manusia :
1.   Etika Deskriptif, yaitu etika yang berusaha meneropong secara kritis dan rasional sikap dan prilaku manusia dan apa yang dikejar oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika deskriptif memberikan fakta sebagai dasar untuk mengambil keputusan tentang prilaku atau sikap yang mau diambil.

Cakupan analisanya berisikan sejumlah indikator-indikator fakta actual yang terjadi secara apa adanya terhadap nilai dan perilaku manusia. Suatu situasi dan realita budaya yang berkembang di masyarakat. Etika deskriptif hanya membahas dan memberikan analisa penilaiannya atas kejadian tertentu.

Contohnya : Mengenai masyarakat Jawa yang mengajarkan tatakrama berhubungan dengan orang yang lebih tua.
2.   Etika Normatif, yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan pola prilaku ideal yang seharusnya dimiliki oleh manusia dalam hidup ini sebagai sesuatu yang bernilai. Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan.

Etika normatif memberi penilaian sekaligus memberi norma sebagai dasar dan kerangka tindakan yang akan diputuskan. Penilaian obyektif mempertimbangkan seluruh situasi dari individu / kelompok masyarakat yang melakukan suatu tindakan didasari acuan-acuan yang meliputi kondisi fisik, psikologi, pendidikan, budaya, dsb.

Contohnya : ada etika yang bersifat individual seperti kejujuran, disiplin diri, tanggung jawab.

3.   Metaetika, Pendekatan ini lebih menekankan bagaimana gagasan etika berasal dan apa maknanya. Pendekatan ini lebih bersifat kebahasaan atau pemaknaan atas segala ucapan moral atau dapat di sebut jalan atau jembata menuju etika itu sendiri.

Manfaat Etika

Ada beberapa manfaat etika dalam kehidupan adalah :
a)        Dapat membantu suatu pendirian dalam beragam pandangan dan moral.
b)        Dapat membantu membedakan mana yang tidak boleh dirubah dan mana yang boleh dirubah.
c)         Dapat menyelesaikan suatu masalah-masalah moralitas maupun sosial lainnya yang membingungkan masyarakat dengan pemikiran yang sistematis dan kritis.
d)        Berusaha menggunakan nalar sebagai dasar pijak bukan dengan perasaan yang akan merugikan banyak orang. Berpikir dan bekerja secara sistematis dan teratur ( step by step).
e)         Berusaha menyelidiki suatu masalah sampai ke akar-akarnya bukan hanya sekedar ingin tahu tanpa memperdulikan.

03 April 2014, Pukul 15.00


Tujuan Mempelajari Ilmu Etika

Dalam kehidupan sehari-hari, Etika sangat penting untuk di terapkan untuk menciptakan nilai moral yang baik. Beberapa orang mengartikan bahwa etika hanyalah sebagai konsep untuk dipahami dan bukan menjadi bagian dari diri kita. Namun sebenarnya etika harus benar-benar dimiliki dan diterapkan oleh diri kita masing-masing, sebagai modal utama moralitas kita pada kehidupan yang menuntut kita berbuat baik. Etika yang baik, mencerminkan perilaku yang baik, sedangkan etika yang buruk , mencerminkan perilaku kita yang buruk pula. Selain itu etika dapat membuat kita menjadi lebih tanggung jawab, adil dan responsif.

Beberapa contoh Tujuan kita menerapkan atau mempelajari etika itu sendiri ialah :
  1. Untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruknya perilaku atau tindakan manusia dalam ruang dan waktu tertentu.
  2. Mengarahkan perkembangan masyarakat menuju suasana yang harmonis, tertib, teratur, damai dan sejahtera.
  3. Mengajak orang bersikap kritis dan rasional dalam mengambil keputusan secara otonom.
  4. Etika merupakan sarana yang memberi orientasi pada hidup manusia.
  5. Untuk memiliki kedalaman sikap; untuk memiliki kemandirian dan tanggung jawab terhadap hidupnya.
  6. Mengantar manusia pada bagaimana menjadi baik.


03 April 2014, Pukul 14.55

Etika Kepada Orang Tua

Apakah tradisi menghormati orang tua semakin memudar di republik ini? Bisa jadi. Banyaknya tauran, semakin berani para buruh atau pekerja melakukan mogok kerja, dan semakin jauhnya kehidupan yang lebih baik bisa jadi indikator bahwa penghormatan kepada orang tua semakin menipis.

Menurut Confusius, sosok yang membidani Etika Konfusianisme, mengatakan bahwa keadilan dan kemakmuran bertitik tolak dari penghormatan kepada orang tua. Anda dan saya harus memutar otak mencari relasi antara penghormatan kepada orang tua dengan keadilan dan kemakmuran.
Yang jelas, negeri kita masih jauh baik dari keadilan apalagi kemakmuran. Anda cek sendiri bagaimana Anda diperlakukan di dunia kerja. Itu bisa jadi gambaran bagaimana keadilan dan kemakmuran di negeri ini. 
Confusius mendapatkan inspirasi dari Shun tentang pentingnya menghormati ayah dan ibu.
Dalam buku Da Xue (Jalan Tengah), Confusius berkata, "Betapa berbaktinya Shun kepada orang tuanya! Kebajikannya seperti orang suci. Martabatnya seperti raja. Ia memiliki semua kekayaan yang ada di dalam empat lautan. Persembahan di kuil dikirim untuknya dan kisahnya selalu dikenang keturunannya."
 
Dalam buku Lun Yu, Confucius berkata, "Seorang pemuda harus berbakti pada orang tua ketika berada di rumah, menghormati saudaranya yang lebih tua ketika berada di luar rumah; menjaga tingkah laku jujur dalam perkataan; mencintai semua orang dan menjalin persahabatan dengan orang-orang yang baik."
 
Konfusianisme bahkan memberikan perhatian khusus pada upacara menghormati orang tua yang telah meninggal. Pada buku Lun Yu misalnya, Zeng Zi berkata, "Jika kita mengikuti upacara penguburan orang tua kita dengan khidmat, dan tidak melupakan upacara untuk menghormati leluhur kita yang telah lama pergi, maka moral baik rakyat akan kembali dengan cepat dan alami."

Yang jauh lebih menarik, teori pemerintahan Confusius bertitik tolak dari pengaturan keluarga.
Dalam buku The Great Learning ditulis, "Jika keluarga sudah diatur dengan benar, maka kerajaan kecil dapat diperintah dengan baik. Jika kerajaan kecil diperintah dengan baik, maka seluruh kerajaan akan menikmati kedamaian dan keseimbangan."
"Keluarga adalah dasar kerajaan," begitu kata Mencius, penerus tradisi Konfusianisme.

Pemikiran Confusius tidak jauh dari pemikiran yang lebih kuno. Di dalam karya yang lebih tua, kurang lebih 900 tahun sebelum Confusius lahir, menghormati orang tua merupakan salah satu dari 6 pilar-etika yang terpenting dalam hubungan sesama manusia. "Hormatilah orang tuamu supaya lanjut umurmu," begitu pilar-etika pertama. Lanjut usia merupakan konsekuensi dari penghormatan kepada orang tua.

Bila disimak lebih teliti, prinsip menghormati-ayah-dan-ibu mendahului pilar etika-etika dasar yang lain seperti perintah tidak membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri, tidak berbohong dan tidak menginginkan milik orang lain.

Masuk akal kalau Confusius menekankan pentingnya menghormati ayah dan ibu dan mengelola keluarga sebagai kunci untuk mengatur negara.

Bila melihat kondisi negara kita saat ini, mungkin sebagian besar rakyat tidak lagi menghormati orang tua. Etika semakin buruk. Korupsi merajalela. Warga sulit mendapat pekerjaan yang layak. Harga bahan makanan pokok makin lama makin mahal. Anak tidak tahu lagi berterima kasih pada orang tuanya, kepada ibu yang melahirkannya, orang tua yang mendidik, menyekolahkan bahkan sampai membiayai pernikahannya.
Apakah penghormatan kepada orang tua semakin menipis? Atau kita masih memperhatikan orang tua, tapi tidak menghormatinya?
 
Menurut pendapat saya tentang etika terhadap orang tua maupun sesama yang sudah di jelaskan pada artikel diatas bahwa seorang anak maupun orang pada zaman sekarang ini memang sudah hampir banyak berkurang rasa hormatnya kepada orang tua maupun sesama, Dan menurut saya pribadi penyebabnya adalah banyak budaya budaya asing yang sebenarnya kurang baik untuk dicontoh dan budaya tersebut banyak masuk kepada anak anak maupun orang dewasa tersebut tanpa diberikan pengetahuan dan pengajaran yang benar tentang rasa hormat yang sebenarnya terhadap sesama maupun orang tua dan ada hal yang lebih lagi yaitu berupa berkurangnya sosialisasi anak – anak zaman sekarang terhadap lingkungan sekitarnya sehingga memunculkan banyak dampak yang negatif untuk anak itu sendiri.
 
Sumber :
 
http://erky1892.blogspot.com/2014/03/etika-terhadap-orang-tua-dan-sesama.html
 
03 April 2014, Pukul 14.50

Pengertian Etika

Menurut bahasa Yunani Kuno, etika berasal dari kata ethikos yang berarti “timbul dari kebiasaan”. Etika adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika).
Kata etika, seringkali disebut pula dengan kata etik, atau ethics (bahasa Inggris), mengandung banyak pengertian. Dari segi etimologi (asal kata), istilah etika berasal dari kata Latin “Ethicos” yang berarti kebiasaan. Dengan demikian menurut pengertian yang asli, yang dikatakan baik itu apabila sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Kemudian lambat laun pengertian ini berubah, bahwa etika adalah suatu ilmu yang mebicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai tidak baik.

Etika juga disebut ilmu normative, maka dengan sendirinya berisi ketentuan-ketentuan (norma-norma) dan nilai-nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1988), etika dirumuskan dalam tiga arti, yaitu;
1.      Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).
2.      Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
3.      Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Contoh dari etika

Etika Pribadi. Misalnya seorang yang berhasil dibidang usaha (wiraswasta) dan menjadi seseorang yang kaya raya (jutawan). Ia disibukkan dengan usahanya sehinnga ia lupa akan diri pribadinya sebagai hamba Tuhan. Ia mempergunakan untuk keperluan-keperluan hal-hal yang tidak terpuji dimata masyarakat (mabuk-mabukan, suka mengganggu ketentraman keluarga orang lain). Dari segi usaha ia memang berhasil mengembangkan usahanya sehinnga ia menjadi jutawan, tetapi ia tidak berhasil dalam emngembangkan etika pribadinya.

Etika Sosial. Misalnya seorang pejabat pemerintah (Negara) dipercaya untuk mengelola uang negara. Uang milik Negara berasal dari rakyat dan untuk rakyat. Pejabat tersebut ternyata melakukan penggelapan uang Negara utnuk kepentingan pribadinya, dan tidak dapat mempertanggungjawabkan uang yang dipakainya itu kepada pemerintah. Perbuatan pejabat tersebut adalah perbuatan yang merusak etika social.
Etika moral berkenaan dengan kebiasaan berperilaku yang baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila etika ini dilanggar timbullah kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral.
Contoh etika moral:
  • berkata dan berbuat jujur
  • menghargai hak orang lain
  •  menghormati orangtua dan guru
  •  membela kebenaran dan keadilan
  •  menyantuni anak yatim/piatu

Menurut para ahli, etika adalah aturan perilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya serta menegaskan yang baik dan yang buruk.
Berikut akan dipaparkan mengenai pengertian etika berdasarkan pendapat para ahli:
  1. Drs. O.P. Simorangkir, etika atau etik dapat diartikan sebagai pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai baik.
  2. Drs. Sidi Gajabla dalam sistematika filsafat mengartikan etika sebagai teori tentang tingkah laku, perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
  3. Drs. H. Burhanudin Salam berpendapat bahwa etika merupakan cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
  4. Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 1995 ), etika adalah nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
  5. Maryani dan Ludigdo, etika merupakan seperangkat aturan, norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang dianut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi.
  6. Ahmad Amin mengungkapkan bahwa etika memiki arti ilmu pengetahuan yang menjelaskan arti baik atau buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dicapai oleh manusia dalam perbuatan dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia.
  7. Soegarda Poerbakawatja mengartikan etika sebagai filsafat nilai, pengetahuan tentang nilai – nilai, ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia terutama mengenai gerak – gerik pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangandan perasaan sampai mengenai tujuan dari bentuk perbuatan.
  8. Martin ( 1993), etika didefinisikan sebagai The discipline which can act as the performance index or reference for our control system.
Sumber:  
http://bayuprikitiw.blogspot.com/2014/03/pengetian-etika.html
 
03 April 2014, Pukul 14.45